Sabtu, 21 Maret 2015

Hari kesehatan Internasional


Hari kesehatan Internasional
Sejarah Hari Kesehatan Nasional Pada sekitar tahun 1960-an malaria merupakan salah satu penyakit rakyat yang berkembang dengan subur. Ratusan ribu jiwa mati akibat malaria. Berdasarkan penyelidikan dan pengalaman, sebenarnya penyakit malaria di Indonesia dapat dilenyapkan. Untuk itu cara kerja harus dirubah dan diperbarui. Maka pada September 1959 dibentuk Dinas Pembasmian Malaria (DPM) yang kemudian pada Januari 1963 dirubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM). Pembasmian malaria tersebut ditangani secara serius oleh pemerintah dengan dibantu oleh USAID dan WHO. Direncanakan bahwa pada tahun 1970 malaria hilang dari bumi Indonesia. Pada akhir tahun 1963, dalam rangka pembasmian malaria dengan racun serangga DDT, telah dijalankan penyemprotan rumah-rumah di seluruh Jawa, Bali dan Lampung, sehingga l.k. 64,5 juta penduduk telah mendapat perlindungan dari kemungkinan serangan malaria. Usaha itu juga dilanjutkan dengan nusaha surveilans yang berhasil menurunkan ”parasite index” dengan cepat, yaitu dari 15 % menjadi hanya 2%. Pada saat itulah, tepatnya pada tanggal 12 November 1964, peristiwa penyemprotan nyamuk malaria secara simbolis dilakukan oleh Bung Karno selaku Presiden RI di desa Kalasan, sekitar 10 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Meskipun peristiwanya sendiri merupakan upacara simbolis penyemprotan nyamuk, tetapi kegiatan tersebut harus dibarengi dengan kegiatan pendidikan atau penyuluhan kepada masyarakat. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun terus menerus diperingati sampai sekarang. Sejak itu, HKN dijadikan momentum untuk melakukan pendidikan/penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Tema utama Hari Kesehatan Nasional (HKN) periode 2010 – 2014 adalah Indonesia Cinta Sehat. Tema yang inspiratif ini dipilih untuk menggerakkan segenap komponen bangsa guna mencapai Hidup Sehat. Untuk HKN Ke – 49 taun ini, kita memilih sub-tema Menuju Indonesia Sehat dan Jaminan Kesehatan Nasional Yang Bermutu, untuk memaknai dimulainya pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 1 Januari 2014, suatu tonggak sejarah menuju masyarakat Indonesia yang sehat, mandiri, dan  berkeadilan. Mari kita jadikan momentum Hari Kesehatan Nasional 2013 untuk melakukan refleksi tentang apa yang dapat kita berikan bagi kesehatandan kesejahteraan bangsa tercinta. Kita masih harus bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja iklas dan bekerja tuntas, untuk mencapai sasaran-sasaran Pembangunan Kesehatan dengan mengutaman upaya promotif – prefentiv. Perilaku hidup bersih dan sehat harus kita masyarakatkan agar benar – benar menjadi budaya Bangsa Indonesia. Perilaku hidup bersih dan sehat hendaknya ditanamkan sejak usia dini agar menjadi budaya yang dipraktekkan sehari – hari sepanjang hidup. Adapun Indonesia mempunyai program dalam pembangunan kesehatan “Indonesia Sehat 2015“ adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat , bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan serta fasilitas kesehatan yang bermutu secara adil dan merata diseluruh wilayah Republik Indonesia dan dapat mewujudkan bangsa yang mandiri maju dan sejahtera.   

Opini saya tantang hari kesehatan internasional
Permasalahannya di Indonesia, seberapa seriuskah kita mencermati kelayakan dan keamanan pangan kita? Anak-anak sekolahan bisa mendapatkan jajanan dengan mudahnya tanpa tahu keamanan makanan tersebut, atau keracunan makanan yang acap terjadi ketika ada acara makan bersama. Dalam pengalaman saya, keracunan makanan memang bukan kasus yang sering terjadi, namun juga tidak bisa dikatakan sangat jarang, apalagi jika kasus tersebut sampai menyebabkan kejadian luar biasa.

Kadang menguji secara sederhana kesadaran masyarakat tentang keamanan pangan bisa dilakukan dengan mudah. Tanyakan saja apakah seseorang tahu bahan dasar dari produk yang dikonsumsinya, bagaimana itu diolah, apa kandungan gizinya (AKG), apa bahan tambahannya, kapan kedaluwarsanya?

Masyarakat pada umumnya cukup bisa menghindari makanan berbahaya ketika tanda kerusakan bahan pangan nyata terlihat, misalnya sayuran yang busuk tentunya akan dihindari dan memilih sayuran yang segar. Tapi kuman patogen berbahaya atau zat kimia berbahaya sering tidak mengubah wujud, rasa dan aroma makanan secara umum, sehingga bahaya yang lebih besar tidak akan mudah ditemukan oleh masyarakat yang awam.

Bantuan Badan POM sendiri cukup banyak memberikan informasi tentang keamanan pangan, hanya saja pengawasan tetap memerlukan bantuan dari masyarakat. Sebut saja salah satu proyek BPOM di tahun ini tentang “Gerakan Keamanan Pangan Desa” sepertinya tampak menjanjikan. Saya sendiri tidak tahu seberapa efektif nantinya kader PKP – Penyuluh Keamanan Pangan di tiap-tiap desa, atau DFI – district food inspector.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar